Jumat, 16 Desember 2011

tugas individu 4

Sejumlah Operator Seluler Terus Pangkas Karyawan
| Erlangga Djumena | Kamis, 15 Desember 2011 | 11:06 WIB 


JAKARTA, KOMPAS.com — Operator seluler terus berupaya mengikis biaya yang membenahi bisnis mereka. Pasar yang jenuh serta persaingan bisnis yang mengetat memaksa mereka harus efisien. Strategi yang kini marak dilakukan adalah memangkas tenaga kerja.
Setelah pertengahan tahun ini, PT Indosat Tbk memangkas 26 persen dari 3.000 karyawannya melalui program pensiun Voluntary Separation Scheme (VSS), tahun depan sejumlah operator akan mengikutinya.
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), misalnya, berencana memangkas 5.000 karyawannya menjadi 15.000. "Kami akan tawarkan pensiun dini ke mereka," tandas Eddy Kurnia, Head of Corporate Communication Affair PT Telkom.
Langkah ini dilakukan lantaran pendapatan per pelanggan atau average revenue per user (ARPU) anjlok. JP Morgan Securities menyebutkan, sepanjang Januari-Oktober 2011 lalu, ARPU operator seluler kita rata-rata anjlok 4 persen-14 persen year on year.
Biang masalahnya adalah persaingan tarif yang tidak diimbangi dengan peningkatan pemakaian layanan suara (voice) dan SMS.
Rencananya, Telkom akan menggelar program pensiun dini secara bertahap mulai 2012. Perusahaan ini akan menawarkan dua jenis paket pensiun, yakni golden shake hand dan silver shake hand.
Karyawan yang memilih program golden shake hand harus keluar dari Telkom. Adapun pegawai yang memilih silver shake hand, Telkom masih akan mempekerjakan mereka di unit usahanya.
Adapun Indosat berencana menggelar pensiun dini pada kuartal I tahun depan. "Kami akan lihat situasi dulu," ujar Djarot Handoko, Public Relation Manager Indosat.
Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama PT Telkomsel, menuturkan, tren efisiensi tenaga terjadi di seluruh dunia. Meski begitu, dalam jangka pendek Telkomsel belum berencana untuk memangkas pegawai.
Namun, bila keadaan memaksa, Telkomsel juga akan melakukan langkah serupa, yaitu memangkas tenaga kerja, utamanya di bidang pemeliharaan menara base transceiver station (BTS). "Ini juga terkait rencana penjualan menara BTS kepada PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel)," tandas Sarworto.
Jika rencana ini terealisasi, ancaman angka pengangguran di Indonesia akan terus membengkak. (Yudo Widiyanto, Arif Wicakson/Kontan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar